Part 9 - Pertemuan Takdir dengan Dewi Penenun
Setelah meninggalkan Desa Niu Jia, Niu Lang dan Dewa Sapi Abu-Abu menjalani hari-hari yang sunyi namun bebas. Mereka berjalan menyusuri jalan tanah yang membelah ladang dan perbukitan, berhenti di tempat-tempat yang dirasa aman, dan melanjutkan perjalanan saat fajar menyingsing. Meski hidup mereka sederhana, ada ketenangan baru yang tumbuh di hati Niu Lang, ketenangan yang lahir dari kebebasan memilih langkah sendiri, tanpa teriakan dan ancaman yang selama ini membayangi hidupnya.
Di suatu daerah yang jauh dari keramaian, mereka menemukan tempat yang cocok untuk menetap sementara. Tanahnya subur, airnya jernih, dan alam sekitarnya terasa ramah. Di sanalah Niu Lang mulai membangun kehidupan kecilnya sendiri, memanfaatkan tenaganya untuk mengolah tanah dan merawat sapi-sapi yang kini menjadi satu-satunya hartanya. Dewa Sapi Abu-Abu setia menemaninya, tidak hanya sebagai ternak, tetapi sebagai penuntun yang diam-diam menjaga dan mengamati jalan hidup sang pemuda.
Pada suatu hari yang cerah, ketika musim semi mulai menyentuh bumi dengan warna dan kehangatannya, sesuatu yang luar biasa terjadi. Langit yang biasanya tenang tampak lebih cerah dari biasanya, seolah cahaya matahari memantul dengan cara yang berbeda. Dewa Sapi Abu-Abu memperhatikan perubahan itu dengan seksama, dan dalam hatinya ia tahu bahwa alam langit sedang bergerak.
Di atas awan, di alam yang tidak terlihat oleh mata manusia, Dewi Penenun Zhi Nu bersama para dewi lainnya turun ke bumi untuk menikmati keindahan dunia manusia. Mereka memilih sebuah tempat yang sunyi dan asri, dekat aliran sungai yang airnya bening dan dikelilingi pepohonan rindang. Tawa para dewi bergema ringan, menyatu dengan suara alam, menciptakan suasana yang seolah terpisah dari waktu.
Dewa Sapi Abu-Abu mengetahui bahwa inilah saat yang telah lama menunggu. Dengan bijak, ia membimbing Niu Lang menuju tempat itu, tanpa menjelaskan sepenuhnya apa yang akan terjadi. Niu Lang mengikuti dengan patuh, tidak menyadari bahwa langkah-langkahnya sedang diarahkan menuju pertemuan yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Ketika Niu Lang pertama kali melihat Zhi Nu, waktu seolah berhenti. Dewi itu berdiri di tepi sungai, pakaiannya berkilau lembut seperti cahaya pagi, rambutnya tergerai halus, dan wajahnya memancarkan ketenangan yang belum pernah Niu Lang saksikan sebelumnya. Ia bukan hanya cantik, tetapi membawa aura kelembutan dan kehangatan yang membuat siapa pun merasa tenteram. Hati Niu Lang bergetar, perasaan asing yang belum pernah ia kenal sebelumnya muncul tanpa ia pahami.
Zhi Nu pun memperhatikan Niu Lang. Di antara para dewi yang turun bersamanya, pemuda gembala itu tampak berbeda. Kesederhanaannya, sikapnya yang sopan, dan sorot matanya yang jujur menarik perhatiannya. Tidak ada kesombongan, tidak ada niat tersembunyi. Ia melihat seorang manusia yang telah ditempa oleh penderitaan namun tidak kehilangan kebaikan hatinya.
Dengan bantuan halus dari Dewa Sapi Abu-Abu, pertemuan itu pun terjadi. Kata-kata sederhana terucap, percakapan ringan terjalin, dan tanpa disadari, benang takdir mulai saling terikat. Mereka berbincang tentang kehidupan di bumi, tentang kerja keras dan kesederhanaan, serta tentang dunia langit yang penuh keindahan namun juga aturan yang ketat. Setiap kata yang terucap membawa mereka semakin dekat, seolah mereka telah saling mengenal sejak lama.
Hari itu berakhir tanpa mereka sadari. Para dewi lain kembali ke langit, namun Zhi Nu menoleh sekali lagi ke arah Niu Lang, menyimpan bayangannya di dalam hati. Niu Lang berdiri memandangi langit yang mulai memerah, dadanya dipenuhi perasaan hangat yang baru pertama kali ia rasakan. Ia tidak tahu apa arti perasaan itu, namun ia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Di balik awan, takdir tersenyum. Pertemuan itu bukanlah kebetulan, melainkan awal dari sebuah kisah cinta yang akan melampaui batas dunia manusia dan alam dewa. Di tanah yang sederhana itu, di antara aliran sungai dan hembusan angin musim semi, benih cinta telah ditanam, siap tumbuh menghadapi ujian yang kelak akan datang.


