a

Friday, December 19, 2025

Niulang Zhinü 織女牛郎 - Part 11


Part 11 - Perintah Langit dan Perpisahan yang Menyakitkan

Kehidupan yang tenang di bumi perlahan menarik perhatian alam langit. Ketidakhadiran Zhi Nu bukan lagi sekadar bisikan di antara para dewi, melainkan keganjilan yang mengganggu tatanan surgawi. Alat tenun langit yang biasanya bergerak dengan harmoni kini kerap terhenti, benang-benang takdir menjadi kusut, dan keindahan kain surgawi tidak lagi memancarkan kesempurnaan. Setiap helai sutra yang gagal menjadi pengingat bahwa Dewi Penenun telah meninggalkan tugas sucinya demi cinta manusia.

Kaisar Langit akhirnya mengetahui penyebab kekacauan itu. Amarahnya tidak meledak dalam teriakan, melainkan terpendam dalam keheningan yang menakutkan. Bagi penguasa langit, pelanggaran terhadap hukum surgawi adalah ancaman terhadap keseimbangan seluruh alam. Ia memerintahkan Permaisuri Langit, Wang Mu Niang-Niang, untuk turun ke dunia manusia dan membawa Zhi Nu kembali, apa pun yang harus dilakukan.

Hari itu, langit di atas rumah Niu Lang berubah warna. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, awan bergerak gelisah, dan udara terasa berat. Zhi Nu merasakan pertanda itu di dalam hatinya, seolah ada benang tak kasatmata yang menariknya kembali ke asalnya. Ia menatap kedua anaknya yang sedang bermain dan wajah Niu Lang yang penuh ketenangan, lalu dadanya dipenuhi kecemasan yang sulit dijelaskan.

Ketika Wang Mu Niang-Niang turun ke bumi, kehadirannya membawa hawa dingin yang memisahkan dunia manusia dari kehangatan sebelumnya. Ia berdiri dengan wibawa yang tak terbantahkan, matanya tajam namun dingin. Tanpa banyak kata, ia menyatakan perintah langit: Zhi Nu harus kembali ke alam dewa dan meninggalkan kehidupan manusianya. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar, sebab hukum langit berdiri di atas perasaan siapa pun.

Zhi Nu berlutut, air mata mengalir di pipinya. Ia memohon dengan suara gemetar, meminta belas kasihan agar diizinkan tetap tinggal bersama keluarganya. Namun setiap permohonan itu berhadapan dengan tembok aturan yang tidak mengenal empati. Wang Mu Niang-Niang menegaskan bahwa cinta antara dewa dan manusia adalah pelanggaran yang tidak dapat dibiarkan.

Niu Lang berdiri di samping istrinya, hatinya dipenuhi keputusasaan. Ia tidak memiliki kata-kata yang cukup kuat untuk melawan kehendak langit. Ia hanya seorang manusia biasa, tanpa kekuatan atau kedudukan. Ketika Wang Mu Niang-Niang menarik Zhi Nu pergi, Niu Lang berusaha mengejarnya, namun langkahnya terhenti oleh kekuatan tak terlihat yang menekan tubuhnya ke tanah.

Tangisan anak-anak mereka menggema, memecah kesunyian yang mencekam. Zhi Nu menoleh untuk terakhir kalinya, menatap keluarganya dengan pandangan penuh cinta dan kesedihan yang tak terkatakan. Dalam satu tarikan napas, ia terseret naik ke langit, meninggalkan bumi yang telah menjadi rumahnya.

Setelah kepergian Zhi Nu, dunia Niu Lang seakan runtuh. Rumah kecil yang dahulu penuh tawa kini terasa kosong dan dingin. Setiap sudut mengingatkannya pada kehadiran istrinya—alat tenun yang terdiam, kain sutera yang belum selesai, dan suara yang tak akan kembali. Namun di balik kesedihan itu, tekad mulai tumbuh. Niu Lang berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menyerah begitu saja.

Di alam langit, Zhi Nu dikurung dalam kesepian. Meski kembali ke istana surgawi, hatinya tertinggal di bumi. Ia terus memikirkan suami dan anak-anaknya, menenun dengan air mata yang jatuh ke benang-benang sutra. Setiap helai kain yang ia hasilkan menjadi saksi bisu penderitaan seorang dewi yang kehilangan cinta.

Perpisahan itu bukan sekadar pemisahan dua insan, melainkan luka yang membelah dua dunia. Cinta mereka tidak padam, justru semakin menyala di tengah larangan dan jarak yang tak terjembatani. Di bawah langit yang sama namun terpisah oleh hukum surgawi, Niu Lang dan Zhi Nu menyimpan harapan tipis bahwa suatu hari, takdir akan memberi mereka kesempatan untuk bertemu kembali.

Tulis Komentar FB Anda Disini...