a

Friday, December 19, 2025

Niulang Zhinü 織女牛郎 - Part 10


Part 10 - Cinta yang Turun ke Dunia Manusia

Sejak pertemuan pertama di tepi sungai itu, bayangan Zhi Nu tidak pernah benar-benar meninggalkan hati Niu Lang. Setiap kali ia menuntun sapi ke padang rumput atau menundukkan kepala mencangkul tanah, pikirannya kerap melayang pada wajah lembut dewi penenun yang hadir bak cahaya pagi. Ia tidak berani menyebut perasaan itu sebagai cinta, sebab baginya, seorang gembala miskin tidak pantas menyimpan harapan setinggi langit, namun semakin ia mencoba melupakannya, semakin kuat pula perasaan itu mengakar dalam dadanya.

Di alam langit, Zhi Nu pun tidak dapat memalingkan hati dari dunia manusia yang baru saja ia singgahi. Di antara gemerlap istana langit dan suara alat tenun surgawi yang tak pernah berhenti berdenting, pikirannya terus kembali kepada pemuda sederhana yang matanya memantulkan ketulusan. Setiap helai benang yang ia tenun seakan menyimpan bayangan Niu Lang, membuat hasil tenunannya menjadi lebih halus, namun juga sarat dengan kerinduan yang tak terucap. Para dewi lain mulai menyadari perubahan itu, namun Zhi Nu menyimpannya dalam diam, karena ia tahu bahwa perasaan seperti itu dilarang oleh hukum langit.

Hari demi hari berlalu, hingga akhirnya Zhi Nu tidak lagi mampu menahan kerinduan yang menyesakkan dadanya. Ia menatap bumi dari balik awan, mengingat kesederhanaan hidup Niu Lang yang jauh lebih jujur dibanding kemewahan alam dewa. Keputusan besar pun tumbuh perlahan di dalam hatinya—keputusan yang lahir dari keberanian, bukan dari nafsu, melainkan dari cinta yang tulus. Dengan hati bergetar, ia memilih untuk turun kembali ke dunia manusia, meninggalkan sementara tugas sucinya sebagai Dewi Penenun.

Kepulangan Zhi Nu ke bumi bukanlah peristiwa yang ramai. Ia turun secara diam-diam, menyembunyikan cahaya keilahiannya, agar dapat hidup sebagai manusia biasa. Ketika ia kembali bertemu Niu Lang, perasaan yang tersimpan di antara mereka akhirnya menemukan kata-kata. Tidak ada janji muluk, tidak ada sumpah berlebihan, hanya pengakuan jujur dari dua hati yang saling menemukan rumahnya. Dalam kesederhanaan itu, cinta mereka tumbuh kuat, tidak digoyahkan oleh perbedaan asal-usul.

Dengan restu Dewa Sapi Abu-Abu, Niu Lang dan Zhi Nu menikah dan membangun kehidupan bersama. Rumah kecil mereka berdiri di tengah alam yang tenang, dikelilingi ladang dan suara angin. Niu Lang bekerja keras mengolah tanah dan menggembala sapi, sementara Zhi Nu mengisi hari-harinya dengan menenun kain. Namun tenunan Zhi Nu tidak seperti kain biasa; dari tangannya lahir sutra yang halus dan indah, memancarkan kehangatan dan keindahan yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya.

Zhi Nu tidak menyimpan ilmu itu untuk dirinya sendiri. Ia mengajarkan manusia cara memelihara ulat sutera, cara mengambil benang, dan cara menenun kain yang kuat sekaligus indah. Perlahan, kehidupan masyarakat di sekitarnya berubah. Kain sutera menjadi simbol harapan dan ketekunan, dan nama Zhi Nu mulai dikenal, meski asal-usulnya tetap menjadi misteri.

Kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi kehangatan yang sederhana namun mendalam. Tawa sering terdengar di rumah kecil itu, dan kerja keras terasa ringan karena dijalani bersama. Dari cinta mereka lahir dua anak, seorang putra dan seorang putri, yang menjadi cahaya baru dalam hidup mereka. Setiap malam, Niu Lang memandang keluarganya dengan rasa syukur yang tak terucap, merasa bahwa semua penderitaan masa lalunya terbayar lunas oleh kebahagiaan ini.

Namun, kebahagiaan yang terlalu sempurna sering kali menarik perhatian langit. Di alam dewa, ketidakhadiran Zhi Nu mulai terasa. Benang-benang tenun surgawi menjadi kusut, dan keseimbangan perlahan terganggu. Bisik-bisik pun sampai ke telinga Kaisar Langit, dan dari sana, takdir mulai bergerak ke arah yang lebih gelap.

Di bumi, Niu Lang dan Zhi Nu belum menyadari bahwa hari-hari damai mereka tengah dihitung. Mereka masih hidup dalam kehangatan cinta, tidak tahu bahwa ujian terbesar telah menunggu di balik awan. Cinta yang turun ke dunia manusia telah tumbuh kuat, namun justru kekuatan itulah yang akan segera diuji oleh hukum langit yang tak mengenal belas kasih.

Tulis Komentar FB Anda Disini...