a

Friday, December 19, 2025

Niulang Zhinü 織女牛郎 - Part 8


Part 8 - Kembali ke Rumah dan Pengusiran yang Tak Terelakkan

Senja telah turun sepenuhnya ketika Niu Lang dan Dewa Sapi Abu-Abu memasuki Desa Niu Jia. Cahaya jingga yang tersisa di langit memantul di atap-atap rumah jerami, sementara asap tipis dari dapur penduduk desa perlahan naik ke udara. Suasana desa tampak seperti biasa tenang, sederhana, dan nyaris tidak berubah namun bagi Niu Lang, setiap langkah yang ia ambil terasa berbeda, seolah tanah yang ia pijak menyimpan kenangan lama sekaligus bayangan masa depan yang belum ia pahami sepenuhnya.

Ia menggiring sepuluh ekor sapi menuju halaman rumah kakaknya. Setiap lenguhan sapi terdengar jelas di telinganya, seperti hitungan yang menegaskan bahwa ia telah memenuhi perintah yang tampaknya mustahil. Hatinya berdebar, bukan karena takut gagal, melainkan karena ia tahu bahwa memenuhi perintah belum tentu berarti mendapatkan keadilan. Ia telah terlalu lama hidup di bawah atap itu untuk memahami bahwa niat jahat tidak mudah dilunakkan oleh kebenaran.

Ketika istri kakaknya keluar dan melihat sapi-sapi itu, wajahnya seketika berubah. Matanya menyipit, bukan karena lega, melainkan karena terkejut dan tidak percaya. Ia menghitung sapi-sapi itu berulang kali, seolah berharap menemukan kesalahan. Ketika hitungannya selalu berakhir pada angka sepuluh, rasa kecewa yang tajam melintas di wajahnya, digantikan oleh kemarahan yang ditahan dengan susah payah.

Alih-alih menepati janjinya atau menunjukkan rasa terima kasih, perempuan itu justru semakin memperlihatkan sisi gelap hatinya. Ia mencurigai Niu Lang mencuri sapi dari orang lain dan melontarkan tuduhan tanpa bukti. Kata-katanya tajam dan menyakitkan, menusuk seperti pisau yang telah lama diasah. Kakak Niu Lang berdiri di sampingnya, terdiam, tidak membela adiknya, seolah ketakutannya lebih besar daripada rasa bersalah.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi masa yang penuh ketegangan. Perlakuan istri kakaknya terhadap Niu Lang semakin kejam. Ia memberikan pekerjaan yang lebih berat, makanan yang lebih sedikit, dan kata-kata yang lebih kasar. Beberapa kali, dalam amarahnya yang membutakan, ia bahkan mencoba mencelakai Niu Lang, berharap penderitaan itu akan memaksanya pergi atau bahkan mengakhiri hidupnya. Namun setiap kali bahaya mengintai, Dewa Sapi Abu-Abu hadir dengan caranya sendiri, menggagalkan niat jahat itu tanpa menarik perhatian.

Niu Lang menyadari bahwa keberadaannya di rumah itu tidak lagi mungkin. Meski ia telah memenuhi perintah, ia tetap dianggap sebagai ancaman dan beban. Setiap malam, ia merenung dalam diam, mendengarkan suara napas rumah yang dipenuhi ketegangan. Ia merasa seolah berdiri di ambang pintu kehidupan lamanya, menyadari bahwa tidak ada jalan kembali ke masa di mana ia berharap diterima sebagai keluarga.

Akhirnya, pada suatu hari yang kelabu, istri kakaknya mengambil keputusan yang telah lama ia rencanakan. Dengan suara dingin dan tanpa emosi, ia mengusir Niu Lang dari rumah itu. Ia melarangnya kembali selamanya, seolah keberadaan pemuda itu adalah noda yang harus dihapus. Tidak ada pembelaan, tidak ada perpisahan hangat. Kakaknya tetap terdiam, menundukkan kepala, membiarkan keputusan itu terjadi.

Niu Lang berdiri di halaman rumah dengan perasaan yang campur aduk. Ada kesedihan karena kehilangan satu-satunya tempat tinggal yang ia kenal, namun ada pula kelegaan aneh karena penderitaan yang menindihnya selama bertahun-tahun akhirnya berakhir. Ia menatap rumah itu sekali lagi, menyimpan kenangan pahit dan getir, lalu mengalihkan pandangan ke jalan yang terbentang di depannya.

Bersama Dewa Sapi Abu-Abu, Niu Lang meninggalkan Desa Niu Jia. Langkahnya perlahan namun mantap. Ia tidak membawa banyak barang, hanya apa yang benar-benar ia miliki: ketulusan hati, kesabaran yang telah teruji, dan seekor sapi yang setia. Ia tidak tahu ke mana langkahnya akan membawanya, namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melangkah tanpa rasa takut.

Malam itu, ketika desa perlahan menghilang di balik kegelapan, Niu Lang menyadari bahwa pengusiran itu bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan baru. Di hadapannya terbentang dunia yang luas dan tak pasti, namun di dalam dadanya tumbuh keyakinan yang tenang: bahwa selama ia berjalan dengan hati yang jujur, takdir pada akhirnya akan menuntunnya menuju cahaya yang selama ini ia cari.

Tulis Komentar FB Anda Disini...