a

Thursday, December 18, 2025

Niulang Zhinü 織女牛郎 - Part 4


Part 4 - Munculnya Pria Tua Misterius

Kesunyian di padang rumput pegunungan itu terasa semakin dalam setelah Niu Lang menenggelamkan dirinya dalam pikiran-pikiran yang berat. Udara seolah menahan napas, dan bahkan sapi-sapi yang merumput pun bergerak lebih pelan, seakan memahami kesedihan tuan muda mereka. Niu Lang masih duduk di bawah pohon tua itu, punggungnya bersandar pada batang kasar yang telah menghitam dimakan usia, sementara pandangannya menatap ke arah lereng gunung yang tertutup kabut tipis. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia terdiam seperti itu, sebab waktu terasa kehilangan maknanya ketika hatinya dipenuhi kebimbangan.

Tiba-tiba, tanpa suara langkah atau tanda kehadiran yang jelas, bayangan seorang pria berdiri tidak jauh di hadapannya. Bayangan itu muncul begitu saja, seolah menyatu dengan kabut dan cahaya yang menyelimuti pegunungan. Niu Lang terkejut dan segera berdiri, menggenggam tongkat gembalanya dengan refleks, jantungnya berdetak lebih cepat. Namun ketika ia menatap lebih saksama, ketegangannya perlahan mereda.

Pria itu sudah sangat tua. Rambut dan janggutnya putih seluruhnya, panjang dan terurai, namun wajahnya memancarkan ketenangan yang aneh, seperti permukaan danau yang tidak terganggu angin. Pakaiannya sederhana, berwarna kusam, hampir menyatu dengan warna tanah dan batu di sekitarnya. Matanya tajam namun lembut, memandang Niu Lang seolah telah lama mengenalnya, seolah pemuda itu bukan orang asing baginya.

Dengan suara rendah yang hangat, pria tua itu bertanya mengapa seorang pemuda duduk sendirian di pegunungan dengan wajah penuh kesedihan. Nada suaranya tidak mengandung rasa menghakimi, melainkan rasa ingin tahu yang tulus. Niu Lang, yang jarang mendapat perhatian semacam itu, terdiam sejenak. Ia menimbang-nimbang apakah ia harus menjawab, namun ada sesuatu dalam tatapan pria tua itu yang membuatnya merasa aman.

Akhirnya, dengan suara pelan, Niu Lang menceritakan segalanya. Ia bercerita tentang masa kecilnya yang penuh kehilangan, tentang kehidupannya di rumah kakaknya, tentang perlakuan kejam istri kakaknya, dan tentang perintah mustahil yang kini membayangi masa depannya. Kata-kata itu mengalir begitu saja, seolah selama ini tertahan di dalam hatinya dan baru menemukan jalan keluar. Saat ia selesai, dadanya terasa sedikit lebih ringan, meski masalahnya belum menemukan jawaban.

Pria tua itu mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak menyela, tidak pula menunjukkan ekspresi terkejut. Sesekali ia mengangguk pelan, seolah memahami setiap detail kisah yang disampaikan. Ketika Niu Lang terdiam, pria tua itu tersenyum tipis, senyum yang tidak lebar namun sarat makna, seolah ia telah mengetahui akhir dari cerita itu jauh sebelum Niu Lang mengucapkannya.

Ia lalu berkata bahwa tidak semua jalan keluar terlihat oleh mata manusia, dan bahwa sering kali, jawaban tersembunyi di tempat yang tidak pernah dipikirkan. Dengan suara yang tetap tenang, ia menyuruh Niu Lang pergi ke Gunung Fu Niu, sebuah tempat yang jarang didatangi orang karena dianggap liar dan berbahaya. Di sana, katanya, terdapat seekor sapi tua yang sedang sakit parah, dan jika Niu Lang bersedia merawatnya dengan sabar hingga sembuh, maka sapi itu akan menjadi jawaban atas perintah yang mustahil tersebut.

Niu Lang mendengarkan dengan perasaan campur aduk antara harapan dan keraguan. Ia tidak mengerti bagaimana seekor sapi sakit dapat mengubah nasibnya, dan ia juga tidak tahu mengapa pria tua itu begitu yakin. Namun di balik kebingungan itu, ia merasakan keyakinan yang sulit dijelaskan, seolah kata-kata pria tua itu bukan sekadar nasihat, melainkan bagian dari takdir yang sedang terungkap.

Ketika Niu Lang hendak menanyakan lebih banyak, pria tua itu melangkah mundur perlahan. Kabut kembali bergerak, menelan sosoknya sedikit demi sedikit. Dalam sekejap, pria tua itu lenyap, seolah tidak pernah ada. Niu Lang berdiri terpaku, menatap tempat di mana pria itu tadi berdiri, jantungnya kembali berdebar, kali ini bukan karena takut, melainkan karena perasaan bahwa ia baru saja menyentuh sesuatu yang berada di luar pemahaman manusia.

Padang rumput kembali sunyi. Hanya suara angin dan sapi-sapi yang terdengar. Namun bagi Niu Lang, dunia tidak lagi terasa sama. Di dadanya, untuk pertama kalinya sejak pagi itu, muncul secercah harapan yang nyata. Ia menatap ke arah Gunung Fu Niu yang menjulang di kejauhan, siluetnya samar di balik kabut, dan menyadari bahwa langkah berikutnya dalam hidupnya telah ditentukan.

Dengan hati yang masih dipenuhi tanda tanya namun juga keberanian baru, Niu Lang memutuskan untuk mempercayai nasihat pria tua misterius itu. Ia tidak tahu apa yang menantinya di Gunung Fu Niu, namun ia tahu bahwa ia tidak lagi bisa berdiam diri di bawah pohon kesedihan. Takdir telah memanggilnya, dan ia bersiap melangkah menuju jalan yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Tulis Komentar FB Anda Disini...