Part 5 - Perjalanan Menuju Gunung Fu Niu
Setelah sosok pria tua misterius itu lenyap ditelan kabut, Niu Lang masih berdiri cukup lama di tempatnya, seakan takut bahwa jika ia bergerak terlalu cepat, sisa kehangatan dari pertemuan aneh itu akan ikut menghilang. Angin pegunungan kembali berhembus pelan, membawa aroma rumput dan tanah basah, sementara suara sapi-sapi yang merumput terdengar seperti detak waktu yang perlahan bergerak maju. Dalam keheningan itu, Niu Lang menyadari bahwa hidupnya telah sampai pada persimpangan yang tidak bisa lagi dihindari.
Ia menatap kesembilan ekor sapi yang berada di sekitarnya, lalu mengalihkan pandangan ke arah jauh, ke tempat Gunung Fu Niu menjulang samar di balik lapisan kabut. Gunung itu bukan tempat yang asing sepenuhnya baginya; ia pernah mendengar cerita tentangnya dari para penduduk desa, kisah-kisah tentang lereng yang curam, hutan lebat, dan jalan setapak yang jarang dilalui manusia. Banyak yang menganggap gunung itu berbahaya dan enggan mendekat, sebab siapa pun yang masuk terlalu dalam sering kali tidak kembali dengan cerita yang menyenangkan. Namun justru di sanalah, menurut pria tua itu, jawaban atas nasibnya menunggu.
Dengan hati yang berdebar, Niu Lang mengumpulkan sapi-sapinya dan menggiring mereka ke arah yang aman, memastikan mereka tidak tersesat. Setelah itu, ia menyiapkan diri untuk berangkat. Ia tidak membawa banyak bekal, hanya sedikit makanan sederhana dan tongkat gembala yang selalu menemaninya. Langkah pertamanya menuju Gunung Fu Niu terasa berat, bukan karena jaraknya, melainkan karena ketidakpastian yang menyertainya. Namun setiap langkah juga membawa harapan baru, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Jalan menuju Gunung Fu Niu semakin sempit seiring ia melangkah lebih jauh. Padang rumput perlahan berubah menjadi hutan kecil, pepohonan tumbuh rapat dan sinar matahari hanya menembus sela-sela daun. Suara burung dan serangga terdengar lebih jelas, sementara tanah di bawah kakinya menjadi lebih lembap dan licin. Niu Lang berjalan dengan hati-hati, matanya awas mengamati setiap perubahan di sekelilingnya, sebab ia tahu bahwa satu langkah ceroboh bisa berakibat fatal.
Sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi bayangan tentang pria tua misterius itu. Ia mencoba mengingat setiap kata, setiap ekspresi wajah, dan setiap gerakan yang tampak begitu tenang dan penuh keyakinan. Siapakah pria itu sebenarnya? Mengapa ia begitu tahu tentang nasib Niu Lang? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benaknya, namun tidak satu pun memiliki jawaban yang jelas. Meski demikian, ada keyakinan aneh yang terus mendorongnya maju, seolah suara tak terlihat membimbing langkahnya.
Semakin tinggi ia mendaki, udara terasa semakin dingin. Kabut menebal, menyelimuti jalan setapak dan membuat jarak pandang menjadi terbatas. Beberapa kali Niu Lang berhenti untuk menarik napas dan menenangkan diri. Tubuhnya lelah, namun ia tidak mengizinkan dirinya berhenti terlalu lama. Ia teringat ancaman istri kakaknya dan kemungkinan kehilangan tempat tinggal jika ia gagal. Pikiran itu membuat langkahnya kembali mantap.
Setelah berjalan cukup lama, Niu Lang mulai mendengar suara yang berbeda dari sekelilingnya. Bukan suara angin atau burung, melainkan lenguhan pelan yang nyaris tertelan oleh kesunyian hutan. Ia berhenti, memiringkan kepala, dan mendengarkan dengan saksama. Suara itu terdengar lemah, terputus-putus, dan penuh penderitaan. Jantung Niu Lang berdegup lebih kencang, sebab ia tahu bahwa suara itu mungkin berasal dari sapi yang disebutkan oleh pria tua itu.
Ia mengikuti arah suara tersebut, menyingkirkan semak-semak dan melangkah lebih dalam ke hutan. Di balik pepohonan, ia akhirnya melihat seekor sapi tua tergeletak di tanah. Tubuhnya kurus, napasnya berat, dan salah satu kakinya tampak terluka parah. Luka itu tampak sudah lama tidak terawat, dan darah yang mengering menempel pada bulu abu-abunya. Pemandangan itu membuat hati Niu Lang terasa perih.
Tanpa ragu, ia berlutut di samping sapi itu. Ia tidak merasa takut, tidak pula jijik. Yang ia rasakan hanyalah dorongan kuat untuk menolong. Ia mengusap leher sapi itu dengan lembut, mencoba menenangkannya, sambil berbicara pelan seolah hewan itu dapat mengerti setiap kata. Di saat itulah Niu Lang menyadari bahwa perjalanannya ke Gunung Fu Niu bukan sekadar upaya memenuhi perintah yang mustahil, melainkan awal dari ikatan yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya.
Di tengah hutan yang sunyi dan berkabut itu, Niu Lang menemukan tujuan baru. Ia tidak tahu berapa lama ia harus tinggal di sana, tidak tahu apakah usahanya akan berhasil, namun ia telah memutuskan satu hal dengan pasti: ia akan merawat sapi tua itu dengan segenap kesabaran dan ketulusan yang ia miliki, sebab di sanalah, di antara penderitaan dan harapan, takdirnya mulai menampakkan wujudnya.


