a

Friday, December 19, 2025

Niulang Zhinü 織女牛郎 - Part 7


Part 7 - Kesembuhan dan Janji Sang Dewa Sapi

Hari demi hari berlalu di lereng Gunung Fu Niu dengan irama yang hampir tidak terasa. Kabut pagi datang dan pergi, matahari naik perlahan di balik pepohonan, lalu tenggelam kembali di ufuk barat, meninggalkan langit berwarna keemasan yang sunyi. Niu Lang tetap setia berada di sisi sapi tua itu, memperhatikan setiap perubahan kecil pada tubuhnya, seolah kemajuan yang tampak sederhana adalah anugerah yang besar. Luka di kaki sapi yang dulu tampak mengerikan kini mengering, dan langkahnya, meski masih tertatih, mulai menunjukkan kekuatan yang kembali.

Pada suatu pagi yang dingin, ketika embun masih melekat pada daun dan rumput, sapi tua itu berdiri sepenuhnya tanpa bantuan. Niu Lang menyaksikan pemandangan itu dengan mata yang berkaca-kaca, hatinya dipenuhi rasa syukur yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata. Selama sebulan penuh, ia telah mencurahkan tenaga, waktu, dan kesabarannya tanpa mengharapkan balasan, dan kini usahanya berbuah keajaiban yang nyata.

Dewa Sapi Abu-Abu menoleh ke arah Niu Lang, sorot matanya kini jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi redup atau dipenuhi penderitaan, melainkan jernih dan penuh wibawa, seperti mata yang telah melihat banyak kehidupan dan banyak kesalahan. Dengan suara yang lebih kuat, ia mengucapkan terima kasih kepada Niu Lang, bukan sebagai hewan kepada manusia, melainkan sebagai makhluk langit kepada jiwa yang tulus. Kata-katanya tidak panjang, namun setiap suku kata mengandung penghargaan yang dalam.

Ia kemudian mengingatkan Niu Lang bahwa kebaikan yang dilakukan dengan tulus tidak pernah luput dari perhatian langit. Hukuman yang menimpanya memang belum sepenuhnya berakhir, namun kesembuhannya adalah tanda bahwa langit tidak menutup mata terhadap kesetiaan dan pengorbanan. Dewa Sapi Abu-Abu berkata bahwa ikatan yang terjalin di antara mereka bukanlah ikatan sementara, melainkan hubungan yang akan terus berlanjut dan saling menjaga.

Setelah itu, sang dewa menyatakan niatnya untuk mengikuti Niu Lang kembali ke dunia manusia. Ia tahu bahwa pemuda itu masih menghadapi perintah yang mustahil dan bahaya yang mengintainya di rumah kakaknya. Dengan tenang, ia berjanji akan menjadi sapi kesepuluh yang dicari Niu Lang, sekaligus pelindung yang akan menyertainya dalam menghadapi kejahatan dan ketidakadilan. Janji itu diucapkan tanpa kesombongan, seolah sudah menjadi bagian dari takdir yang tidak bisa diubah.

Mendengar hal itu, Niu Lang terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Selama ini, ia terbiasa menghadapi hidup seorang diri, menanggung beban tanpa bantuan siapa pun. Kini, tiba-tiba, ia ditawari perlindungan oleh makhluk yang berasal dari alam langit. Perasaan haru, bingung, dan rasa hormat bercampur menjadi satu. Ia hanya bisa menundukkan kepala dan mengucapkan terima kasih dengan suara pelan, berharap ketulusannya cukup untuk membalas kebaikan sebesar itu.

Mereka pun bersiap meninggalkan Gunung Fu Niu. Niu Lang memandang sekeliling, mengenang hari-hari sunyi yang telah ia lalui di tempat itu. Gunung yang sebelumnya terasa asing dan menakutkan kini menjadi saksi perubahan hidupnya. Dengan langkah perlahan, ia dan Dewa Sapi Abu-Abu mulai menuruni lereng, menyusuri jalan setapak yang dulu ia lewati dengan penuh keraguan, namun kini ia lalui dengan hati yang lebih mantap.

Dalam perjalanan turun, Dewa Sapi Abu-Abu sesekali berbicara tentang aturan langit, tentang keseimbangan antara dunia manusia dan alam dewa, serta tentang akibat dari setiap perbuatan. Niu Lang mendengarkan dengan penuh perhatian, menyadari bahwa setiap kata adalah pelajaran berharga yang tidak akan ia dapatkan di tempat lain. Ia merasa seolah kehidupannya yang sederhana telah dibukakan pintu menuju pemahaman yang lebih luas.

Ketika mereka akhirnya mendekati desa, matahari hampir tenggelam. Cahaya senja menyinari jalan tanah dan rumah-rumah sederhana, menciptakan bayangan panjang yang seolah menyambut kepulangan mereka. Niu Lang tahu bahwa perjalanan ke Gunung Fu Niu telah berakhir, namun ia juga sadar bahwa ujian yang sesungguhnya baru akan dimulai. Dengan Dewa Sapi Abu-Abu di sisinya, ia melangkah maju, siap menghadapi nasib yang telah lama menantinya, tanpa mengetahui bahwa langkah itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.

Tulis Komentar FB Anda Disini...