a

Friday, December 19, 2025

Niulang Zhinü 織女牛郎 - Part 6


Part 6 - Sapi Tua dan Rahasia dari Langit

Kabut di Gunung Fu Niu semakin menebal ketika Niu Lang menetap di sisi sapi tua yang terbaring lemah itu. Hutan di sekeliling mereka terasa sunyi, hanya sesekali dipecah oleh desiran angin yang menggerakkan dedaunan basah atau oleh napas berat sang sapi yang terdengar terputus-putus. Niu Lang duduk di tanah yang dingin, mengamati makhluk tua di hadapannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan, campuran antara iba, tanggung jawab, dan rasa takdir yang perlahan menyelinap ke dalam hatinya.

Ia mulai merawat sapi itu dengan cara yang ia tahu. Luka di kaki sapi dibersihkannya dengan air dari mata air kecil yang mengalir tak jauh dari tempat itu. Ia memetik rumput paling segar dan daun-daun muda yang lembut, lalu menyuapkannya perlahan, memastikan sapi itu masih memiliki kekuatan untuk bertahan. Setiap gerakannya penuh kehati-hatian, seolah satu sentuhan kasar saja bisa memperparah penderitaan makhluk tua tersebut. Waktu berlalu tanpa ia sadari, hari berganti malam, dan malam berganti pagi, sementara Niu Lang tetap setia berada di sana.

Pada hari ketiga, ketika cahaya matahari pagi menembus sela-sela pepohonan dan menyinari tubuh sapi itu, Niu Lang melihat sesuatu yang berbeda. Mata sapi tua yang sebelumnya redup kini tampak lebih hidup. Ia mengangkat kepalanya dengan susah payah, menatap Niu Lang dengan sorot yang bukan sekadar sorot hewan biasa, melainkan tatapan yang penuh kesadaran. Niu Lang tertegun, merasakan bulu kuduknya meremang, sebab ia tahu bahwa ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi.

Dengan suara pelan namun jelas, sapi tua itu berbicara. Suaranya dalam, bergetar, namun mengandung wibawa yang tidak dapat disangkal. Ia menyebut nama Niu Lang, seolah telah mengenalnya sejak lama. Mendengar itu, Niu Lang hampir mundur selangkah, jantungnya berdebar keras, namun kakinya seakan terpaku di tanah. Rasa takut muncul sejenak, namun segera digantikan oleh keheranan dan rasa hormat yang mendalam.

Sapi tua itu kemudian mengungkapkan jati dirinya. Ia bukanlah sapi biasa, melainkan Dewa Sapi Abu-Abu, makhluk dari alam langit yang pernah hidup di antara para dewa. Karena melanggar aturan langit, ia dihukum turun ke dunia manusia dan menjelma menjadi sapi tua yang terluka dan rapuh. Hukuman itu tidak hanya merenggut kekuatannya, tetapi juga memisahkannya dari kemuliaan yang pernah ia miliki. Kata-katanya mengalir perlahan, sarat dengan penyesalan dan keletihan panjang.

Niu Lang mendengarkan dengan napas tertahan. Ia merasa seolah dunia yang selama ini ia kenal tiba-tiba terbuka lebih luas. Langit, yang sebelumnya hanya ia pandang sebagai hamparan biru dengan bintang-bintang di malam hari, kini terasa dekat dan penuh rahasia. Ia menyadari bahwa pertemuannya dengan sapi tua itu bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari jalinan takdir yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

Dewa Sapi Abu-Abu kemudian menjelaskan bahwa lukanya tidak bisa disembuhkan dengan cara biasa. Luka itu hanya akan pulih jika dicuci dengan air yang berisi ratusan jenis bunga, bunga-bunga yang tumbuh di berbagai sudut pegunungan dan lembah. Proses itu akan memakan waktu lama dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Ia menatap Niu Lang dengan sorot mata yang penuh ujian, seolah ingin melihat apakah pemuda itu benar-benar bersedia menjalani jalan yang sulit tersebut.

Tanpa ragu, Niu Lang menyatakan kesediaannya. Ia tidak bertanya mengapa takdir memilihnya, dan tidak pula mengeluh tentang beratnya tugas yang menanti. Baginya, merawat sapi tua itu bukan lagi sekadar usaha untuk menyelamatkan dirinya dari perintah kejam istri kakaknya, melainkan kewajiban moral yang lahir dari hatinya yang jujur. Ia merasa bahwa menolong makhluk yang menderita adalah hal yang benar, apa pun latar belakangnya.

Hari-hari berikutnya dipenuhi oleh kerja keras yang sunyi. Niu Lang menjelajahi lereng-lereng Gunung Fu Niu, mengumpulkan bunga dari berbagai tempat, dari yang tumbuh di celah batu hingga yang tersembunyi di balik semak-semak. Ia mencuci luka sapi itu dengan air bunga setiap hari, dengan gerakan lembut dan penuh perhatian. Tubuhnya lelah, tangannya penuh goresan, namun hatinya tetap teguh.

Perlahan, perubahan mulai terlihat. Luka sapi itu tidak lagi mengeluarkan darah, napasnya menjadi lebih teratur, dan kekuatannya sedikit demi sedikit kembali. Setiap kemajuan kecil itu memberi Niu Lang harapan baru. Di tengah kesunyian gunung dan kerja yang melelahkan, terjalin ikatan yang kuat antara manusia dan makhluk dari langit, ikatan yang dibangun bukan oleh janji, melainkan oleh kesabaran dan ketulusan.

Di akhir bulan itu, ketika sapi tua akhirnya mampu berdiri dengan kokoh, Niu Lang menyadari bahwa bukan hanya sapi itu yang sembuh. Di dalam dirinya sendiri, sesuatu juga telah berubah. Ia tidak lagi merasa sebagai pemuda tak berdaya yang dikendalikan oleh nasib, melainkan sebagai bagian dari dunia yang lebih luas, di mana kebaikan hati memiliki kekuatan untuk membuka jalan menuju keajaiban.

Tulis Komentar FB Anda Disini...