Part 3 - Kesedihan di Bawah Pohon Gunung
Hari itu berjalan lebih lambat dari biasanya. Matahari menggantung di langit pegunungan seperti enggan bergerak, sementara bayangan sapi-sapi yang merumput memanjang di atas tanah. Niu Lang membiarkan kesembilan ekor sapi itu menyebar di padang rumput, matanya mengikuti mereka satu per satu dengan perhatian yang nyaris berlebihan, seolah ia berharap jumlah mereka tiba-tiba bertambah tanpa ia sadari. Namun setiap kali ia menghitung, hasilnya tetap sama, sembilan, tidak pernah berubah, tidak pernah memberi celah bagi harapan yang ia genggam dengan rapuh.
Padang rumput itu luas dan sunyi, dikelilingi lereng-lereng gunung yang ditumbuhi pepohonan liar. Angin berhembus membawa aroma rumput segar dan tanah lembap, suara dedaunan saling bergesek terdengar seperti bisikan yang tak bisa ia pahami. Biasanya, suasana seperti ini memberinya ketenangan, namun hari itu justru menekan dadanya. Keheningan terasa terlalu dalam, seolah alam sengaja membiarkannya sendirian dengan pikirannya sendiri.
Setelah memastikan sapi-sapi tidak saling berjauhan, Niu Lang melangkah menuju sebuah pohon besar yang telah lama ia kenal. Batangnya tebal, akarnya mencuat ke permukaan tanah, dan daunnya rimbun menaungi siapa pun yang berteduh di bawahnya. Pohon itu sering menjadi saksi kelelahan dan kesepiannya, tempat ia duduk mengusap keringat dan menenangkan pikiran. Kali ini, ia duduk dengan tubuh sedikit membungkuk, tongkat gembala tergeletak di sampingnya, dan pandangannya kosong menembus kejauhan.
Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan, seolah ingin mengusir beban di dadanya. Dalam benaknya terngiang kembali suara istri kakaknya, dingin dan tanpa ragu, mengucapkan syarat yang mustahil itu. Ia membayangkan wajah kakaknya yang diam dan tak berdaya, berdiri di balik bayang-bayang, tidak membelanya, tidak pula menentang perintah istrinya. Kesadaran itu membuat hatinya semakin terasa sepi.
Untuk pertama kalinya, Niu Lang membiarkan pikirannya mempertanyakan keadilan hidup. Ia teringat semua tahun yang telah ia habiskan bekerja tanpa pamrih, semua penghinaan yang ia telan tanpa perlawanan, dan semua malam yang ia lalui dengan perut lapar dan hati lelah. Ia bertanya dalam diam, apakah kesabaran selalu harus dibayar dengan penderitaan, dan apakah kejujuran benar-benar memiliki tempat di dunia yang keras ini.
Angin tiba-tiba bertiup lebih kencang, menggoyangkan cabang-cabang pohon di atas kepalanya. Beberapa daun kering jatuh perlahan, melayang sebelum menyentuh tanah. Niu Lang membuka matanya dan menatap daun-daun itu, mengikuti gerakannya hingga berhenti di tanah. Pemandangan sederhana itu seolah mencerminkan perasaannya sendiri, jatuh tanpa arah, mengikuti arus yang tidak bisa ia kendalikan.
Waktu terus berlalu. Matahari bergerak sedikit demi sedikit, bayang-bayang bergeser, namun Niu Lang tetap duduk di bawah pohon itu. Ia menghitung hari-hari ke depan di dalam pikirannya, membayangkan apa yang akan terjadi jika ia pulang tanpa membawa sapi kesepuluh. Ia membayangkan pintu rumah tertutup baginya, jalan desa yang harus ia lewati tanpa tujuan, dan malam-malam panjang tanpa tempat berlindung. Gambaran-gambaran itu membuat tenggorokannya terasa kering dan matanya perih, meski air mata enggan jatuh.
Di tengah kesedihan itu, ingatan akan kedua orang tuanya kembali hadir, lebih jelas dari biasanya. Ia teringat suara mereka, senyum sederhana, dan tangan yang pernah menuntunnya ketika ia masih kecil. Dalam bayangan itu, ia seolah mendengar pesan yang sama berulang kali: untuk tetap menjadi manusia yang baik, apa pun yang terjadi. Kenangan itu tidak menghapus kesedihannya, namun memberinya kekuatan kecil untuk tetap bertahan.
Tanpa ia sadari, keheningan di sekelilingnya perlahan berubah. Ada sesuatu yang berbeda di udara, sesuatu yang sulit ia jelaskan. Ia merasakan seolah tidak sepenuhnya sendirian lagi, meski saat ia membuka mata dan menatap sekeliling, tidak ada siapa pun selain sapi-sapi yang merumput dan pegunungan yang diam membisu. Namun perasaan itu tetap ada, samar namun nyata, seperti isyarat halus bahwa takdir sedang mendekat.
Di bawah pohon tua itu, dengan hati yang dipenuhi kebimbangan dan harapan yang hampir padam, Niu Lang tidak tahu bahwa kesedihannya telah mencapai titik di mana langit sendiri mulai memperhatikannya. Dari tempat itu, dari kesunyian dan keputusasaan yang dalam, kisahnya akan segera bergerak ke arah yang tak pernah ia bayangkan, menuju sebuah pertemuan yang akan mengubah jalan hidupnya selamanya.


