Pada masa lampau, ketika Dinasti Zhou masih menaungi negeri dan manusia percaya bahwa nasib ditulis jauh sebelum kelahiran, terdapat sebuah desa kecil bernama Niu Jia di wilayah Nan Yang, sebuah desa yang tidak tercatat dalam buku-buku besar kerajaan, namun hidup dalam irama alam yang tenang dan berulang. Desa itu dikelilingi oleh hamparan ladang yang berubah warna mengikuti musim, oleh bukit-bukit rendah yang memeluknya seperti dinding alami, serta oleh jalan tanah yang setiap pagi dilalui para petani, pedagang keliling, dan gembala yang menggiring ternak mereka dengan langkah perlahan. Di pagi hari, kabut tipis sering turun menutupi atap-atap rumah jerami, dan suara sapi yang melenguh bercampur dengan denting lonceng kecil menjadi bunyi pertama yang menyambut matahari.
Di desa itulah seorang pemuda tumbuh dalam kesunyian yang panjang. Ia lahir dari keluarga sederhana, namun sejak usia muda telah dipaksa memahami arti kehilangan. Kedua orang tuanya meninggal dunia ketika ia masih terlalu muda untuk sepenuhnya mengerti makna kematian, meninggalkannya tanpa pelukan hangat dan tanpa suara nasihat yang biasanya menjadi penopang hidup seorang anak. Sejak saat itu, dunia terasa lebih luas dan lebih dingin baginya. Ia kemudian dibawa ke rumah kakak kandungnya, satu-satunya keluarga yang tersisa, dengan harapan dapat menemukan perlindungan dan rasa aman.
Namun harapan itu perlahan memudar, sebab rumah sang kakak tidak pernah benar-benar menjadi rumah baginya. Kakaknya sendiri jarang bersuara, tunduk pada kehendak istrinya yang dikenal oleh warga desa sebagai perempuan berhati keras dan penuh perhitungan. Sejak hari pertama tinggal di sana, pemuda itu telah diberi tempat yang jelas, bukan sebagai anggota keluarga, melainkan sebagai tangan tambahan untuk bekerja, sebagai tenaga yang bisa diperas tanpa perlu diberi balasan selain atap untuk berteduh dan sisa makanan di penghujung hari.
Hari-harinya dimulai jauh sebelum ayam jantan berkokok. Ketika desa masih terlelap dan bintang-bintang belum sepenuhnya pudar dari langit, pemuda itu telah bangun dari tikar jerami tipisnya. Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu siapa pun, ia menimba air dari sumur yang dingin menggigit kulit, menyapu halaman yang dipenuhi debu dan daun kering, membersihkan kandang sapi yang bau menyengat, serta menyiapkan segala keperluan rumah tangga sebelum matahari menampakkan wajahnya. Tidak jarang, sebelum ia sempat menghela napas, suara keras istri kakaknya telah memanggil dengan nada perintah, seolah kelelahan bukan alasan untuk berhenti bergerak.
Setelah pekerjaan rumah selesai, ia menggiring sapi-sapi ke padang rumput yang terbentang di luar desa. Di sanalah ia menghabiskan sebagian besar hidupnya, berjalan menyusuri jalan tanah dengan tongkat kayu di tangan, ditemani suara langkah sapi dan desiran angin. Panas matahari membakar kulitnya di siang hari, hujan dingin meresap hingga tulang di musim tertentu, namun ia tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Ia memahami setiap sapi yang digembalakannya, mengenali sifatnya, tahu mana yang lamban, mana yang mudah tersesat, dan mana yang perlu diperhatikan lebih. Kesetiaannya kepada ternak-ternak itu seolah menjadi pengganti kasih sayang yang tidak pernah ia terima dari manusia.
Di rumah, keadaannya tidak pernah membaik. Ia sering makan paling akhir, setelah semua orang selesai. Jika makanan tidak cukup, dialah yang harus mengalah. Jika terjadi kesalahan sekecil apa pun, meski bukan perbuatannya, ia tetap menjadi sasaran amarah. Namun anehnya, tidak pernah sekalipun pemuda itu membalas dengan kata-kata kasar atau perlawanan. Ia menundukkan kepala, menerima semuanya dengan diam, seolah menyimpan luka itu jauh di dalam hatinya.
Bukan karena ia lemah, melainkan karena di dalam dirinya tumbuh keyakinan yang sederhana namun kuat: bahwa hidup, sekeras apa pun, harus dijalani dengan kejujuran dan kesabaran. Ia percaya bahwa perbuatan baik, meski tidak langsung dibalas, suatu hari akan menemukan jalannya sendiri. Pada malam hari, ketika pekerjaan telah usai dan desa tenggelam dalam keheningan, ia sering duduk di luar rumah, memandang langit yang dipenuhi bintang. Dalam diam, ia mengenang kedua orang tuanya, membayangkan wajah mereka, dan bertanya-tanya apakah dari tempat yang jauh mereka masih mengawasinya.
Penduduk desa yang kerap melihatnya bekerja mulai mengenalnya bukan dari nama asli yang diberikan orang tuanya, melainkan dari pekerjaannya. Mereka menyebutnya Niu Lang, sang gembala sapi. Nama itu melekat perlahan, hingga akhirnya menjadi bagian dari dirinya. Bagi sebagian orang, ia hanyalah pemuda miskin dengan pakaian lusuh dan tangan kasar, namun bagi mereka yang benar-benar memperhatikan, Niu Lang adalah sosok yang jarang ditemui: jujur dalam tindakan, tekun dalam kerja, dan tabah menghadapi nasib.
Tanpa ia sadari, hari-hari penuh penderitaan itu sedang membentuk jiwanya, menempa kesabarannya, dan menyiapkannya untuk perjalanan yang jauh lebih besar dari sekadar menggiring sapi di padang rumput. Sebab dari desa kecil yang sunyi itu, takdir perlahan bergerak, menunggu saat yang tepat untuk mengubah kehidupan seorang gembala sederhana menjadi kisah yang kelak akan dikenang hingga ke langit, melampaui batas waktu dan dunia manusia.


