a

Friday, December 19, 2025

Niulang Zhinü 織女牛郎 - Part 12 End


Part 12 - Jembatan Murai dan Janji Abadi di Langit

Kepergian Zhi Nu tidak memadamkan cinta di hati Niu Lang, justru membuatnya semakin menyala dalam kesunyian yang panjang. Hari-harinya di bumi dijalani dengan langkah berat, namun tekadnya tidak goyah. Setiap pagi ia bekerja seperti biasa, mengolah tanah dan merawat sapi-sapinya, namun setiap malam ia menatap langit, mencari cahaya yang diyakininya sebagai tempat istrinya berada. Kedua anaknya menjadi alasan utama ia bertahan, sebab di mata mereka, Niu Lang melihat pantulan wajah Zhi Nu yang hidup dan penuh harapan.

Suatu malam, ketika kesedihan hampir menelan seluruh keberaniannya, Dewa Sapi Abu-Abu berbicara untuk terakhir kalinya. Dengan suara yang dalam dan tenang, ia mengingatkan Niu Lang akan sandal yang dibuat dari kulitnya sendiri, benda yang menyimpan kekuatan untuk menembus batas dunia. Dengan hati yang bergetar, Niu Lang memahami bahwa saatnya telah tiba. Ia menggendong kedua anaknya, mengenakan sandal itu, dan dengan doa yang lirih, melangkah ke arah langit.

Tubuh mereka terangkat dari bumi, menembus awan, mendekati alam dewa yang selama ini hanya menjadi bayangan. Dari kejauhan, Niu Lang melihat Zhi Nu. Hatinya bergetar hebat, seolah seluruh penderitaan terbayar oleh satu pandangan itu. Namun sebelum mereka dapat saling menyentuh, Wang Mu Niang-Niang muncul dan mengayunkan jepit rambut surgawinya, menciptakan sebuah sungai langit yang luas dan berkilauan. Sungai itu membentang di antara mereka, tak terlintasi, dingin, dan abadi. Itulah Sungai Perak, yang kelak dikenal manusia sebagai Bima Sakti.

Di tepi sungai langit itu, Niu Lang dan Zhi Nu berdiri saling berhadapan, hanya dapat memandang tanpa mampu mendekat. Air mata mereka jatuh, bercampur dengan cahaya bintang. Tangisan itu menggema melintasi langit, membawa kesedihan yang begitu murni hingga menggugah hati makhluk lain.

Puluhan juta burung murai mendengar ratapan itu. Dari penjuru bumi dan langit, mereka terbang menuju Sungai Perak. Dengan sayap-sayap kecil mereka, burung-burung itu membentuk sebuah jembatan hidup, saling menautkan tubuh demi tubuh, hingga tercipta jalan yang menghubungkan dua tepi sungai. Di atas jembatan murai itulah, Niu Lang dan Zhi Nu akhirnya bertemu kembali.

Pertemuan itu singkat, namun sarat makna. Mereka saling menggenggam tangan, menatap wajah yang dirindukan dengan air mata dan senyum yang bercampur. Tidak ada keluhan, tidak ada penyesalan, hanya janji untuk tetap setia, apa pun jarak dan waktu yang memisahkan. Cinta mereka, yang telah diuji oleh penderitaan dan larangan, kini berdiri teguh, tak tergoyahkan.

Wang Mu Niang-Niang menyaksikan peristiwa itu dengan hati yang terguncang. Melihat ketulusan cinta yang mampu menggerakkan makhluk langit dan bumi, ia akhirnya melunak. Ia mengizinkan Niu Lang dan Zhi Nu bertemu sekali dalam setahun, pada malam ketujuh bulan ketujuh menurut penanggalan Imlek. Pada malam itulah jembatan murai akan kembali terbentuk, dan cinta yang terpisah akan kembali bersua.

Sejak saat itu, di langit terbentang dua bintang yang saling berhadapan di seberang Sungai Perak—Altair sebagai Niu Lang dan Vega sebagai Zhi Nu. Setiap tahun, manusia menatap langit pada malam Qi Xi, mengenang kisah cinta yang melampaui batas dunia. Gadis-gadis muda berdoa kepada Zhi Nu agar dianugerahi keterampilan, ketekunan, dan cinta yang setia, sementara kisah Niu Lang dan Zhi Nu terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Dengan demikian, legenda ini tidak hanya menjadi kisah tentang perpisahan dan pertemuan, melainkan tentang cinta yang bertahan di tengah penderitaan, kesetiaan yang tidak pudar oleh jarak, dan harapan bahwa bahkan hukum langit pun dapat luluh oleh ketulusan hati. Di antara bintang-bintang, janji itu tetap hidup, abadi, selama manusia masih memandang langit dan percaya pada kekuatan cinta.

Tulis Komentar FB Anda Disini...