Musim gugur datang ke Desa Niu Jia tanpa suara, membawa udara yang lebih dingin dan warna keemasan pada ladang-ladang yang mengelilingi desa. Daun-daun kering mulai berguguran, menumpuk di sudut-sudut halaman dan jalan tanah, seolah menandai perubahan yang tak hanya terjadi pada alam, tetapi juga pada nasib manusia. Bagi kebanyakan penduduk desa, musim ini adalah masa panen dan rasa syukur, namun bagi Niu Lang, musim gugur itu justru menjadi awal dari cobaan yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Istri kakaknya, perempuan yang sejak lama menyimpan ketidaksukaan terhadap keberadaan Niu Lang, semakin merasa terganggu melihat pemuda itu tetap hidup dan bekerja dengan tenang di bawah atap rumahnya. Dalam hatinya tumbuh keyakinan bahwa selama Niu Lang masih tinggal di sana, beban hidupnya tidak akan pernah benar-benar berkurang. Maka pada suatu pagi, ketika kabut masih menggantung rendah dan suara ayam jantan baru sekali terdengar, ia memanggil Niu Lang dengan suara dingin yang penuh perhitungan.
Tanpa basa-basi, perempuan itu memerintahkannya menggembala sembilan ekor sapi ke pegunungan seperti biasa, namun dengan syarat yang membuat udara seolah membeku di sekeliling mereka. Ia menuntut Niu Lang pulang dengan membawa sepuluh ekor sapi. Bukan sembilan, bukan kurang, melainkan sepuluh. Jika gagal, ia tidak diperbolehkan menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Kata-kata itu diucapkan dengan wajah tanpa ekspresi, seolah perintah tersebut bukan sesuatu yang kejam, melainkan hal yang wajar.
Niu Lang berdiri terpaku, mendengar perintah itu dengan perasaan yang sulit ia ungkapkan. Ia tahu, di seluruh desa dan wilayah sekitarnya, tidak ada satu pun sapi tambahan yang bisa ia ambil begitu saja. Ia juga tahu bahwa perintah itu bukan sekadar ujian, melainkan cara halus untuk menyingkirkannya. Namun seperti biasa, ia tidak membantah. Dengan kepala tertunduk, ia menerima perintah tersebut, menyadari bahwa penolakan hanya akan mempercepat penderitaannya.
Pagi itu, ia menggiring sembilan ekor sapi keluar dari kandang, satu per satu, sambil merasakan tatapan istri kakaknya yang penuh kepuasan tersembunyi. Setiap langkah sapi yang meninggalkan halaman rumah terasa seperti langkah menuju ketidakpastian. Jalan tanah yang biasa ia lalui kini terasa lebih panjang, lebih sunyi, seolah alam pun ikut merasakan kegelisahan di dalam hatinya.
Sepanjang perjalanan menuju pegunungan, Niu Lang terus memikirkan perintah itu. Ia menghitung sapi-sapi yang berjalan di depannya, memastikan tidak ada yang tertinggal, meski ia tahu jumlahnya tak akan pernah berubah. Di benaknya berputar pertanyaan yang sama berulang kali: dari mana datangnya sapi kesepuluh itu? Ia mencoba mengingat setiap padang rumput, setiap kandang di desa-desa sekitar, namun tak satu pun memberi jawaban.
Sesampainya di padang rumput pegunungan, Niu Lang membiarkan sapi-sapinya merumput seperti biasa. Namun hari itu, ia tidak bisa menikmati ketenangan alam yang biasanya memberinya sedikit penghiburan. Ia berjalan mondar-mandir, memandangi pegunungan yang menjulang, seolah berharap dari balik lereng itu akan muncul keajaiban. Angin musim gugur berhembus dingin, menggerakkan rumput dan membawa aroma tanah basah, namun hatinya terasa semakin berat.
Ketika matahari mulai naik, Niu Lang akhirnya duduk di bawah sebuah pohon besar yang berdiri sendirian di tepi padang rumput. Pohon itu telah lama menjadi tempatnya beristirahat, namun kali ini, ia duduk dengan bahu merosot dan tatapan kosong. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, rasa putus asa benar-benar menguasai pikirannya. Ia sadar bahwa jika tidak menemukan jalan keluar, ia akan kehilangan satu-satunya tempat yang ia sebut rumah, meski rumah itu penuh penderitaan.
Dalam diam, ia memikirkan kedua orang tuanya, membayangkan apa yang akan mereka katakan jika melihat keadaannya sekarang. Ia juga memikirkan masa depan yang tampak gelap dan tanpa arah. Namun di balik semua itu, ia masih memegang satu keyakinan kecil yang tak pernah padam: bahwa dunia, sekeras apa pun, tidak mungkin sepenuhnya menutup pintu bagi orang yang bersikap jujur dan tidak berniat jahat.
Tanpa ia ketahui, pada saat itulah benang takdir mulai bergerak perlahan. Perintah yang tampak mustahil itu, yang dirancang untuk menghancurkannya, justru sedang menuntunnya menuju pertemuan yang kelak akan mengubah nasibnya. Di bawah pohon itu, di tengah kesunyian pegunungan dan hembusan angin musim gugur, langkah-langkah takdir bersiap mempertemukan Niu Lang dengan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


